Sabtu, 20 Oktober 2012

PowerBank Dadakan


Oke, sebelumnya saya akan memberitahukan kalau hidup saya sekarang penuh dengan tugas. Saking penuhnya, saya sendiri jadi mager (males gerak) unuk menyelesaikannya. Hahh... Dan, cerminan itu semua terlihat pada blog saya yang satu ini. Arti: JARANG UPDATE. #plakk #ohokk #oyeeah

Ide aneh, keisengan, terkadang datang dengan tiba-tiba. Kadangkala di saat perut lapar, kadangkala di saat situasi terburu-buru, ataupun yang lainnya. Tapi, sebentar. Saya punya tips yang (kelihatannya) harus dibagikan kepada para pembaca. Yang kalian butuhkan hanya hape yang baterenya bisa diisi dengan menggunakan kabel data USB (biasanya kalau ditancepin ke komputer atau laptop, baterenya ngisi). Eits, kabel data dan laptop juga dibutuhkan. Oke, sebenarnya ada apa dan untuk apa, sih? Seperti judul postingan ini, saya akan menceritakan kisah saya saat "iseng" membuat PowerBank dadakan. Cekidot.

Rabu, 26 September 2012

Feels Like iPhone!


Halo! Saya kembali dengan beberapa pertanyaan keren!

"Punya iPhone?"

Kalau jawabanmu "Ya", maka selamatlah. Kamu sudah memiliki gadget keren nan mewah.

Kalau jawabanmu "Tidak", yaa kasian deh lu, hari gini ga punya iPhone... Tenang, saya juga nggak punya iPhone. Hehehe. Ayo, tapi kamu harus menjawab pertanyaan berikutnya. "Punya Android?"

Kalau jawabannya "Tidak", aduh, lanjut baca aja, deh. Bagus. Yang jawabnya "Ya", juga lanjut bacanya.

Berbahagialah yang punya iPhone, mereka sudah menikmati visual display yang sangat elegan di kelasnya. Yang punya Android mana suaranya ...? (Androooooo androooo......)

Android itu (aslinya) gratis, tapi kalo udah digabungin sama Galaxy, Optimus, Xperia, atau Andromeda, pasti bayar. Walaupun gratis, tapi kinerjanya lumayan. Modifikasi pun bisa dilakukan. Hahaha... Salah satunya bila pengen jadiin tampilannya kayak iPhone. Bisakah? Bisa, dong!

Saya tau aplikasi ini dari teman saya. Pas pertama liat namanya, ah, palingan yang kayak biasa aja, gak mirip. Tapi, setelah nyoba, wah gilakkk mirip banget.

Tampilan awal saat dibuka persis seperti saat menekan tombol di iPhone. Tapi pastikan launchernya ini sudah diset sebagai launcher default.

Yaudah, bagi yang superr penasaran, silahkan... ini link-nya. Download dan ceritain komentar kalian tentang app yang satu ini. :D

> Download iLauncher

Selasa, 11 September 2012

Mengisi Kekosongan



TPB FSRD. Tahap Persiapan Bersama Fakultas Seni Rupa dan Desain. Tahap di mana saya dan teman-teman saya harus menjalani cobaan visual dan cobaan kreasi selama dua semester alias satu tahun.

Perhatian. Seluruh paragraf di atas dapat dibaca dengan cepat. Yaitu: "Masuk Kuliah, Euy..."

Satu minggu kuliah, dimulai pada hari Senin, diakhiri pada hari Jum'at. Sabtu dan Minggu? Libur deng.

Hidup teman-teman saya yang bukan FSRD kini diisi dengan kalkulus dan fisika. Oh iya, kimia juga iya. Sedangkan kami para FSRD-ers mendapat mata kuliah fakultas bertajuk "Gambar" dan "Rupa Dasar".

Menggambar adalah matematikanya anak FSRD. Setuju? Yeah. Kalau gak setuju, protesnya ke dosen saya yang bilang gitu, jangan ke saya... Toh saya hanya mengulang apa kata bapak dosen, kok.

Parahnya, saya tidak terlalu "mantap" dalam menggambar, seperti halnya pelajaran matematika. Well...

Haduuh, postingan blog pun jarang diupdate saking sibuknya kuliah... Makanya hari ini sempat update dalam rangka mengisi kekosongan. (Padahal semalam tuh bikin tugas)..

Tetap semangat yaaaa ~

Senin, 13 Agustus 2012

Petasan, Tradisikah?



Ramadhan! Alhamdulillah ya, sesuatu. Jengjeng ... Pasti kalian sering dengar sesuatu yang sangat "sesuatu" juga di telinga. Yap. Petasan, gituloh. Wek wek wek. Malam-malam bulan puasa seringkali dihiasi dengan bunyi ledakan petasan. Yang lebih parahnya lagi, siang-siang pun ada yang main petasan. Bunyi itu "sejahtera" hingga musim bulan Syawal. Ohokk.

Pertanyaan besar muncul: "Apakah petasan merupakan sesuatu yang harus?". Walaupun saya yang bertanya begini, jangan salah. Saya juga penggemar petasan sewaktu masih kecil—dan petasannya juga kecil.

Coba lihat. Petasan sudah seperti "hiasan" yang "tetap", yang seolah-olah kalau tidak ada letupan petasan, malam-malam puasa tuh tidak rame (jangan baca ga ada loe ga rame). Nah, standar yang dikemukakan siapa itu? Hadeeeh~

Sudah seperti tradisi, memang. Padahal bukan tradisi, memang. Versi opini para warga dunia pun berbeda-beda tentang petasan.

"Petasan itu bahaya," kata orang tua yang khawatir.

"Ah, ayo kita bakar malam ini. Pasti seru." Kata orang tua yang nekad.

"Gak tau, ah. Pokoknya biar anak-anak saya merasakan hal yang saya rasakan dulu." Kata orang tua yang ingin anaknya berpengalaman.

"Petasan itu seru!" Kata anak yang memang gak ada kerjaan di malam puasa.

"Lumayan buat kagetin orang pulang taraweh," kata anak yang hobinya bikin orang lain jantungan.

"Aku gak suka petasan, karena kalau aku dengar dia meledak, aku suka latah," kata anak perempuan yang sangat benci dengan "tradisi" yang satu ini.

"Aku males dengar petasan, megang aja males, tapi kalo diajak main sama temen, ya ikutan walau sampe bakarnya juga aku yang pegang... intinya untuk kebersamaan, gituu..." kata anak yang ABG (Aneh Bimbang Galau), masih ragu antara memprioritaskan kebersamaan atau kemalasan dia.

"Aku... kapok main petasan. Dilemparin ama temen aku, sampe gini deh. Luka bakar di seluruh tubuh." Kata anak yang menderita luka bakar akibat main petasan. "Tapi kalau udah sembuh mau main lagi."

"..." kata anak yang nyawanya melayang akibat main petasan.

Apakah petasan sudah menjadi tradisi? Jawab: tidak. Hanya keliatan seperti tradisi...

Siapa yang bikin standar begitu sehingga bisa jadi seperti tradisi? Entahlah... yang jelas, petasan bukan tradisi. That's all.

Jumat, 03 Agustus 2012

Mulang ka Lembur

Masjid Bujang Salim, wahahahawwwww!!!
Esseeeh... Judulnya pake bahasa Sunda pulak. Yak, artinya "Pulang ke Kampung Halaman". Saya berangkat dari Bandung ke Medan dalam waktu 2 jam (berpasrah-pasrahan dalam sepawat, eh, pesawat).

Sekarang saya sudah di Aceh. Saatnya kembali menikmati Mie Aceh sepulang salat tarawih...

Saya akan kembali ke Bandung pada tanggal 21 Agustus, walaupun mulai kuliah itu tanggal 27. Hahahah. Intinya, kembali ke sana sekitar lebaran ke-3.

Oke, selagi saya di Aceh, saya mau cari inspirasi buat artikel di Macem-macem Laah dulu, deh. Akhir kata, selamat berlibur, ya, bagi yang liburan...!

Sabtu, 21 Juli 2012

Marhaban Yaa Ramadhan


Wah gak terasa udah setahun yang lalu bikin blog Macem-macem Laah ini! Dan gak terasa udah sebulan saya tidak posting apa-apa di blog. Kesempatan hari ini, baru bisa ngetik lagi. Eits, lupa. Gak terasa juga sekarang udah masuk bulan Ramadhan lagi! Selamat berpuasa bagi umat muslimin dan muslimat.

Mungkin beberapa tulisan yang tertunda akan saya update lagi dan disesuaikan waktunya dengan kejadian sebenarnya. Karena apa? Karena banyak kisah seru yang ingin saya bagikan kepada kalian! Dan kisah seru ini bukan yang berisi tentang sesuatu yang membuat kalian iri kepada saya, ya. Pokoknya, yang bisa dinikmati bersama, deh!

Mudah-mudahan saya juga bisa meningkatkan beberapa postingan tentang Android dan review aplikasi-aplikasinya.

Akhir kata, selamat berpuasa. Mohon maaf lahir dan bathin bila saya punya salah.

Jumat, 29 Juni 2012

Mampir di Warung Cimandum



Ini Bandung, euy. Nama daerahnya  serba pake "Ci..." semua (baca: kebanyakan pake "Ci..."). Cicaheum, Cisitu, Ciroyom, Cihampelas, Cibaduyut,  dan Ci laennya deh...

Malam ini, saya mampir di Ujung Berung. Kata tante saya ada dijual Mie Aceh. Wah, ngiler saya. Heum...

Mampirlah saya di sebuah warung bertuliskan "Warung Aceh". Nah, ini diaaaaa...! Langsung saya mengatur langkah menuju warung itu sembari disambut ibu-ibu yang pake daster dan jilbab. Disambut saya menggunakan logat Sunda. Saya nanyain, "Ibu orang Aceh?". Spontan dijawab masih dengan logat Sunda, "Iya dek. Saya orang Aceh." Wah, saya langsung nyambar pake bahasa tanah rencong, "Di lôn nyœ dari Aceh chit, buk."

Terjadilah percakapan Bahasa Aceh antara saya dan ibu itu. Langsung saya jelaskan maksud dan tujuan saya: membeli mie Aceh tiga bungkus. (Urang kangen pisan maah...)

Akhirnya saya menunggu pesanan saya dibuat. Di meja warung itu, saya menemukan tulisan "WARUNG ACEH CIMANDUM".

Menahan tawa karena geli, muka saya jadi merah. Hahaha... Mengapa saya ketawa? Karena nama warungnya itu. Dalam bahasa Aceh, "Ci" itu artinya "Coba" dan "Mandum" itu artinya "Semua". Jadi Cimandum artinya Cobasemua. Hahaha, ide bagus, ya? Mirip-mirip nama daerah di Bandung, hehehe.

Menu yang tersedia pun khas Aceh (baca: tidak asing bagi saya pribadi). Mulai dari Mie Aceh, Nasi Kari Kambing, Roti Canèe, sampai Telor Setengah Matang juga ada.

Jadi kalo kamu orang Aceh yang lagi ada di Bandung, atau siapapun yang senang dengan masakan Aceh, datang aja ke Ujung Berung sambil nanya, "Misi ... Mau nanya, warung Aceh CIMANDUM dimana, ya?"

Selamat berwisata kuliner... :D